
kalimat
atau ungkapan yang sering diucapkan kaum Muslimin setiap kali datang bulan suci Ramadhan adalah ‘Marhaban ya
Ramadhan’ yang berarti ‘Selamat Datang wahai Bulan
Rumadhan’. Secara bahasa, kata ‘marhaban’ itu
berasal dari bahasa Arab, diambil dari kata
‘rahb’ yang berari ‘luas atau lapang’. Sehingga kata marhaban yang biasa
dipakai sebagai ucapan menyambut tamu yang datang, mengandung makna bahwa tamu
yang datang tersebut,
disambut dan diterima dengan kelapangan dada, penuh kegembiraan, serta
dipersiapkan tempat
yang luas baginya.
‘Marhaban
ya Ramadhan-
Selamat datang wahai Ramadhan’, adalah ungkapan yang mengandung makna bahwa
setiap Muslim menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan, dan
juga mempersiapkan tempat yang luas untuk Ramadhan, pada tubuh, ruh, hai, jiwa,
waktu, tenaga, dan lain-lain, sehingga Ramadhan itu bebas melakukan apa saja,
yang berkaitan dengan upaya mengasah dan mengasuh jiwa orang yang berpuasa.
Jika
kita menyambut kedatangan seseorang atau sesuatu dengan kelapangan dada dan
kegembiraan, tentu karena yang datang itu sangat kita sukai atau kita senangi, karena
kebaikan-kebaikan yang dimilikinya, dan karena kita yang didatangi akan
mendapatkan berbagai kebaikan atau keberuntungan dengan kedatangannya. Kita tidak
akan senang dan bergembira, serta tidak rela menyediakan tempat bagi tamu yang
datang, yang akan membawa keburukan dan akan merugikan kita sebagai tuan rumah,
bahkan kita akan berupaya menolak kedatangannya.
Demikianlah,
setiap Muslim merasa senang, bergembira, lalu mempersiapkan diri dengan
sebaik-baiknya, menyambut kedatangan bulan Ramadhan, karena bulan suci itu akan
mendatangkan kebaikan yang sangat banyak, akan mendatangkan berbagai
keberuntungan
untuk kepeningan dunia dan akhirat, bagi setiap Muslim yang berpuasa dan menghidupkan hari-hari di bulan Ramadhan dengan berbagai amal shaleh.
untuk kepeningan dunia dan akhirat, bagi setiap Muslim yang berpuasa dan menghidupkan hari-hari di bulan Ramadhan dengan berbagai amal shaleh.
Kita
hidup di era Disrupsi. Di mana nafsu kita dimanjakan dengan keinginan-keinginan yang
sebenarnya bukan kebutuhan. Sekali lagi, keinginan bukan kebutuhan. Ingin model smartphone terbaru, ingin motor keluaran terbaru dst, itu
semua adalah keinginan, karena kita belum tentu butuh. Nafsu keinginan kita dimanja oleh taburan
iklan
melalui televisi, radio,
video, internet, telepon dan lain-lain, dari jalan-jalan hingga masuk ke ruang
tidur kita.
Orientasi hidup pun
mengalami pergeseran yang jauh, dari tata nilai dari yang spiritual ke matrealistik. Hedonistik, memuja dunia.
Internet
mengenalkan kita
jejaringan sosial media, kita bisa tersambung dengan dunia ini, baik yang di ujung
Timur hingga ujung Barat, tapi dengan yang sekitar kita malah terpisah. Maka timbul perasaan terasing, frustasi, kehampaan eksistensi dan kegelisahan yang tidak jelas
ujung pangkalnya sehingga menghilangkan rasa bahagia dalam hidup. Puasa membawa
kita pada ruang jeda. Di mana kita harus menghancurkan segala nafsu dan egoisme.
Pada
bulan Ramadhan, puasa itu sendiri dapat dikelompokkan menjadi 3 gelombang. Pertama,
menahan lapar, haus dahaga, dan mengendalikan
nafsu syahwat pada 10 hari pertama dimaksudkan untuk pembiasaan fisik. Ibn Sina
menyebut gejala masking - penebalan. Puasa membiasakan kita untuk tidak mengeluh karena lapar dan tak
menyerah lantaran haus dan dahaga. Untuk melenturkan ego diri agar tidak egois, membuatnya ramah sosio-ekologis.
Puasa terus menerus dalam jangka waktu 10 hari dapat membuat fisik kita agar kebal dan terlatih dari
rasa lapar, dahaga dan hasrat seksual.
Kebal bermakna tidak lagi tergantung dan tidak lagi didikte olehnya, bukan berarti tak butuh lagi. Atas ketulusan niat dan keikhlasan kita
dalam menjalankan puasa pada fase ini, Allah memberi anugerah rahmat: berbentuk kasih sayang,
inayah, hidayah, taufiq dan berkah
Kedua, puasa 10 hari kedua ini sebutlah
puasa untuk psikologis. Dianugerahi
maghfirah, karena puasa fase ini telah membebaskan manusia dari persepsi pada hukum
sebab akibat yang menjeratnya. Bahwa
kalau tidak makan membuat badan lemes, tidak minum membuat dehidrasi, tidak menyalurkan nafsu
syahwat dapat membuat disfungsi ereksi atau otak bludrek. Puasa 10 hari kedua, membuat kita terbiasa bekerja tanpa merasa lemas
lunglai; tidak juga membuat dihidrasi sampai kehilangan konsentrasi seperti di iklan-iklan TV. Bagi mereka yang
ahli puasa, iklan itu seakan menjadi
mitos belaka. Yang terjadi justru pada fase 10 hari kedua, badan, pikiran dan psikologis kita menjadi
sehat tidak lagi dapat didikte dan dipengaruhi oleh kebutuhan fisik. Puasa pada
10 hari pertama dan 10 hari kedua yang dirancang untuk melatih diri menjadi
pribadi yang merdeka dari cengkeraman nafs lawwamah dan nafs amarah
bi al-su’ telah berhasil. Puasa membuat membuat manusia hanya setia pada nurani; ringan saja berkata “tidak” pada godaan nafsu.
Sementara
itu, puasa 10 hari ketiga, sebutlah puasa untuk ruh kita. Pada fase ini, puasa telah
menambah gairah untuk mensucikan diri, memperbanyak pahala, meraih ridho, dengan senantiasa mendekatkan diri (taqarrub) kepada
Allah SWT. Hanya Dia yang menjadi orientasi dan seluruh ibadah dipasrahkan untuk meraih ridho-Nya. Ruh telah suci
karena terlucuti kerak dosa-dosa; jiwa menjadi bening; akal menjadi jernih dan
hati telah menjadi penuh sinar cahaya. Pribadi di mana ruh, jiwa, akal, dan
hatinya telah disinari oleh cahaya Allah SWT adalah pribadi yang memantulkan
cahaya Tuhan dalam setiap sikap, laku dan pikirannya. Ia memiliki jaringan
koneksi cepat dalam menangkap, memapah dan mengimplementasikan kebenaran dalam
kehidupan sehari-hari, sebagai bekal hidup setelah puasa. Ia telah dengan mampu membedakan mana emas, mana loyang;
tetap bekerja keras dan ikhlas di dunia, namun yang dipikirkannya adalah sang Khalik, sangkan paraning dumadi. Pribadi dengan organ
psikologis seperti ini terbuka hijab antara dirinya dengan Allah Azza wa Jalla. Pada fase ini, Nabi menyebut
manusia telah dijauhkan dari api neraka, itqun
min al-nar. Manusia-manusia pada fase ini telah dipenuhi dengan cahaya ilahi, bahkan api neraka tak
lagi
bisa membakarnya
bisa membakarnya
Setelah
kita melampau seluruh fase puasa sebulan Ramadhan, kita memasuki hari Raya Idul Fitri. Hari raya Idul Fitri adalah selebrasi kita karena
berhasil kembali ke fitrah, kembali pada kesucian karena limpahan rahmah dan maghfirah-Nya;
keingingan ego
diri dipandu menuju orientasi ruh, yang asal-musalnya dari Allah SWT; karena noktah hitam karena bercak dosa dan alfa telah gugur darinya. Tanpa organ psikologis yang dirancang canggih, dan miliu eksternal yang lengkap, hampir tidak mungkin manusia kembali suci
diri dipandu menuju orientasi ruh, yang asal-musalnya dari Allah SWT; karena noktah hitam karena bercak dosa dan alfa telah gugur darinya. Tanpa organ psikologis yang dirancang canggih, dan miliu eksternal yang lengkap, hampir tidak mungkin manusia kembali suci
sudah
selayaknya, pada hari ini kita semua bergembira, berbahagia dan bersuka cita, sekaligus bersyukur. Sungguh
beruntung
ada bulan Ramadhan, di
antara bulan-bulan yang ada, dan kita diberi kesempatan menjumpainya. Semula puasa Ramadhan merupakan
kewajiban, namun disaat semua kewajiban ibadah di bulan Ramadhan kita tunaikan dengan penuh khusyu’ dan ikhlas, seketika kita menjadi manusia baru, kembali ke fitrah.
kewajiban, namun disaat semua kewajiban ibadah di bulan Ramadhan kita tunaikan dengan penuh khusyu’ dan ikhlas, seketika kita menjadi manusia baru, kembali ke fitrah.
Komentar
Posting Komentar