Langsung ke konten utama

Pasang surut Politik Sarungan


Membincangkan hubungan agama dan negara pada saat ini memang benar-benar sangat menarik sekaligus relevan. Realitas kehidupan politik kita pada saat ini telah memperlihatkan sebuah dinamika yang sangat memukau.
Menjelang pemilihan umum digelar, banyak sekali tulisan yang bernada 'gugatan' terhadap keabsahan para ulama atau kiai yang terjun di dunia politik praktis dengan aktif di salah satu partai politik (parpol). Bagi sebagian kalangan, kiai seharusnya tidak masuk ke kancah politik praktis, dan tetap berkonsentrasi di bidang keagamaan dan kemasyarakatan.
Beberapa alasan yang dikemukakan, di antaranya, bahwa Wilayah kiai adalah sakral, berdimensi gerakan moral yang penuh dengan nilai-nilai keikhlasan, tanpa tendensi dan ambisi, menjadi milik semua golongan masyarakat. Sedangkan, dunia politik adalah profan yang meniscayakan adanya kepamrihan, penuh muatan politis, tendensius, dan akibatnya para kiai hanya menjadi alat politik kelompok tertentu. Jika berpolitik praktis dan menjadi juru kampanye parpol, para kiai akan terjebak pada logika politik (the logic of politics) yang sering memanipulasi umat atau masyarakat basisnya demi kepentingan politik, yang pada gilirannya mengiring ke arah logika kekuasaan (the logic of power) yang cenderung kooptatif, hegemonik, dan korup. Akibatnya, kekuatan logika (the power of logic) yang dimiliki kiai, seperti logika moralitas yang mengedepankan ketulusan pengabdian terhadap masyarakat basisnya akan menjadi hilang, terkalahkan Oleh logika kekuasaan tadi.
Di samping itu juga aspek lain yang kini banyak disoroti dan hangat dibicarakan  dari sosok "kaum sarungan" adalah kiprah mereka dalam dunia politik. Kiprah kaum sarungan di bidang sosial-politik, sepanjang sejarahnya hingga sekarang, telah memberikan pengaruh yang cukup besar dan luas di tengah masyarakat. Dan telah menjadi sebuah fakta bahwa kaum sarungan memiliki peranan yang tidak sedikit dalam memperjuangkan dan mempertahankan serta sekaligus mengisi kemerdekaan bangsa ini. Kaum sarungan tidak hanya berkiprah dalam bidang agama semata, terapi juga mencakup bidang-bidang lainnya; sosial, politik, ekonomi hingga budaya dan pendidikan. Hal ini juga menunjukkan betapa luasnya kiprah yang dapat dilakukan atau diperankan Oleh kaum sarungan.
Bisakah kaum santri menjadi presiden di negeri ini? Adalah pertanyaan yang menuntut jawaban secara representatif. Tidak mudah bagi tokoh Islam untuk menjadi pemimpin puncak di Indonesia. Bukan karena tidak berkualitas, atau karena tak layak dan berkemampuan. Dari segi kompetensi, mereka sangat pantas menjadi presiden, tapi kendalanya lebih karena beban kultural, selain beban struktural. Semacam takdir politik, selalu terjebak pada kungkungan sangkar-besi legitimasi. Kompetensi positif, namun legitimasi selalu negatif. Itulah beban politik kaum santri.
Namun ketika sudah keluar dari ekslusivitas umat Islam, pada saat yang bersamaan santri itu dianggap lepas dari akar umat. Tidak lagi menjadi tokoh umat. Kosa kata, simbol, dan area pergaulannya pun tak lagi di lingkungan umat. Sebutlah menjadi 'murtad politik'. Padahal ketika konstruksi tokoh umat itu begitu kental, beban politiknya pun sangatlah berat karena akan masuk variabel-variabel teologis dan ideologis yang super ketat. Bisa-bisa akan dijerat Oleh perangkap norma-norma keagamaan yang ketat seperti dituding menjadi tokoh tahayul, bid'ah, dan khurafat.
Itulah takdir kultural politik kaum santri. Seperti tak mungkin dilahirkan untuk menjadi presiden atau tokoh utama di Republik yang mayoritas penduduknya Muslim terbesar di muka bumi ini.
Sejarah Indonesia pun akhirnya seperti milik kaum nasionalis. Kaum "Merah Putih". Kosa kata dan simbol nasionalis pun seperti baju politik kebangsaan, bukan milik kaum santri. Padahal, betapa sangat nasionalistiknya kaum santri itu, sangat Cinta tanah air. Sejarah pun akhirnya melahirkan kategorisasi politik kaum nasionalis versus Islam. Tokoh nasionalis lawan tokoh Islam. Kini untuk merevisi kesalah-kaprahan tersebut kemudian muncul istilah 'nasionalis Islam' versus 'nasionalis secular. Tapi intinya, betapa sulit tokoh dan komunitas santri keluar dari dilema budaya dan struktur politik yang mengungkungnya di negeri ini.
Namun demikian, hal itu telah ditepis, ketika realitas Indonesia menginginkan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden Republik Indonesia pada tahun 1999. Satu realitas yang telah mematahkan konsepsi 'santri' yang mengatakan bahwa santri tidak dapat mengarungi medan politik apalagi bersejajar dengan kaum priyayi. Namun, santri yang menjadi Presiden tersebut memang dalam kondisi yang sangat pelik dan darurat serta membutuhkan manusia yang enerjik dalam menuntaskan krisis multi dimensi Indonesia. Sekalipun sebentar memimpin negara, kaum santri telah dapat menciptakan sejarah baru yaitu menguasai seluruh birokrasi daerah baik tingkat I atau II.
Akankah Indonesia menghadirkan santri menjadi presiden untuk yang kedua kalinya setelah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dus)? Presiden bersejarah karena dipilih rakyat secara langsung. Jawabannya tentu tergantung rakyat Indonesia. Tapi, aroma pertarungan nasionalis versus Islam pun mulai merebak pula dengan suasana yang lebih mencair. Kesan yang muncul di publik, tokoh nasionalis sekular seperti di atas angin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kemana Setelah UN?

Kemana Setelah UN? Pelaksanaan ujian nasioanal 2019 sebagaimana yang di jadwalkan oleh Kemendikbud sejatinya berakhir pada tanggal 08 april 2019. Bagi semua siswa kelas XII, masa-masa seperti ini merupakan saat-saat terakhir bagi mereka menggunakan seragam putih abu-abu. berakhirnya ujian nasioanal ini bukanlah akhir dari segalanya, akan tetapi ini merupakan awal yang baru untuk memulai sesuatu, yang tentunya nanti akan memunculkan pertanyaan “ kemana setelah lulus SMA”? Pertanyaan seperti itulah terkadang yang sering muncul di benak para pelajar yang baru selesai dari bangku SMA. Tidak banyak dari mereka yang kebingunan akan tujuan kemana mereka setelah UN. Apakah mereka akan melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, atau mencari lapangan pekerjaan, atau melaksanakan walimahan alias menikah? Sekarang saatnya kamu menjawab pertanyaan tadi, yang belum kamu temukan jawabannya, yaitu pertanyaan, "Mau ke mana, sih, kamu?" Jawaban pertanyaan ini menentukan apa...

Teroriskah AKU?

Dalam pandangan umum terorisme merupakan fenomena yang lahir dari kebencian dan dendam, namun pandangan itu masih satu sisi. Namun di sisi yang lain kebencian dan dendam lahir dari suatu situasi, situasi itu adalah kegagalan cinta. Dalam cinta memerlukan sebuah kesadaran, tanpa kesadaran cinta akan bermuara dalam kebencian . Terorisme diawali dengan perasaan cinta yang meluap akan Tuhan. Tuhan mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan orang mematuhi serta menerapkannya dalam kehidupan. Keteguhan hati pada prinsip-prinsip hidup mewarnai setiap tindakan. Sebuah Cinta yang meluap dan hidup penuh penghayatan akan menjadi sebuah kenyataan eksistensial yang bermakna. Kita dapat menemukan banyak orang semacam ini di sekitar , yakni orang-orang kecil dengan semangat yang besar untuk hidup sesuai dengan ajaran Tuhan, seperti yang tertera pada agama -agama yang dihayatinya. Mereka menjalani kehidupan se hari-hari dengan penghayatan diri yang orsinil , tanpa kepura-puraan. Hidup mereka ...

Hijrah ala Ilmu Fisika

Sedikit penjelasan, mengenai judul tulisan kali ini, hijrah bukan berarti harus lekat dengan urusan keagamaan. Namun, hijrah itu sendiri berarti pindah, atau perpindahan. Lalu, apa maksud dari kata hijrah alias perpindahan itu sendiri? Dan, apa pentingnya perpindahan untuk mencapai kesuksesan? Baik, sebentar lagi kita akan tahu jawabannya. Yang perlu kita ketahui ialah, sejatinya, kita sebagai manusia itu akan terus dan akan selalu berpindah. Pindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Dari suatu kebiasaan ke kebiasaan lain. Setiap hal dalam tiap inci variabel kehidupan. Terus, hingga meninggal pun kita melakukan perpindahan. Pindah alam . Dalam berusaha mencapai kesuksesan pun, selain melakukan pergerakan, aksi, kita juga wajib melakukan perpindahan. Walaupun begitu, sebetulnya sudah berani aksi pun itu juga merupakan suatu perpindahan. Pindah dari zona nyaman ke zona yang tak nyaman sama sekali dan penuh tantangan. Pokoknya keluar dari zona nyaman itu penuh...