Langsung ke konten utama

Teroriskah AKU?


Dalam pandangan umum terorisme merupakan fenomena yang lahir dari kebencian dan dendam, namun pandangan itu masih satu sisi. Namun di sisi yang lain kebencian dan dendam lahir dari suatu situasi, situasi itu adalah kegagalan cinta. Dalam cinta memerlukan sebuah kesadaran, tanpa kesadaran cinta akan bermuara dalam kebencian.
Terorisme diawali dengan perasaan cinta yang meluap akan Tuhan. Tuhan mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan orang mematuhi serta menerapkannya dalam kehidupan. Keteguhan hati pada prinsip-prinsip hidup mewarnai setiap tindakan. Sebuah Cinta yang meluap dan hidup penuh penghayatan akan menjadi sebuah kenyataan eksistensial yang bermakna.
Kita dapat menemukan banyak orang semacam ini di sekitar, yakni orang-orang kecil dengan semangat yang besar untuk hidup sesuai dengan ajaran Tuhan, seperti yang tertera pada agama-agama yang dihayatinya. Mereka menjalani kehidupan sehari-hari dengan penghayatan diri yang orsinil, tanpa kepura-puraan. Hidup mereka bermakna. Namun perasaan cinta akan Tuhan juga memiliki batasnya. Itulah kelemahan manusia.
Ia selalu terbatas bahkan untuk melakukan hal-hal luhur di hadapan ‘yang tak terbatas’, yakni Tuhan sendiri. Pada akhirnya cinta pun menjadi lelah, dan berubah menjadi cinta yang gagal. Cinta yang gagal akan bermuara pada kebencian. Itulah yang kiranya terjadi pada orang-orang yang menghayati nilai-nilai agamanya secara mendalam.
Mereka hidup sesuai dengan nilai, namun mereka menyaksikan tiap hari, betapa mereka sendirian dan kesepian. Hidup mereka tetap sulit. Para pimpinan yang mereka agungkan tidak mencerminkan nilai-nilai kehidupan luhur yang mereka hayati. Kita juga banyak menemukan fenomena semacam ini di Indonesia. Banyak orang hidup dengan nilai. Namun mereka kecewa melihat keadaan. Orang-orang sekitarnya hidup dengan kemunafikan dan penipuan. Akhirnya mereka pun lelah.
Cinta pun menjadi lelah. Cinta akan nilai dan Tuhan berubah menjadi kebencian atas manusia, yakni manusia-manusia munafik yang hidup dalam topeng kehormatan. Kelelahan cinta akan menjadi kegagalan cinta. Kegagalan cinta adalah kebencian itu sendiri. Cinta yang gagal akan memukul rata semua orang sebagai musuh. Cinta yang gagal adalah cinta yang menyeragamkan. Cinta yang gagal membunuh akal sehat.
Cinta yang gagal akan memiliki daya untuk menghancurkan, dan inilah sumber energi bagi terorisme. Di Indonesia para teroris adalah orang-orang yang kecewa. Mereka mencintai hidup, nilai, dan Tuhan, namun lelah melihat keadaan yang menyakitkan. Cinta mereka gagal dan berubah menjadi dendam. Dendam dan kebencian itu menyeragamkan, sekaligus menyingkirkan perbedaan-perbedaan kecil yang membuat setiap orang itu unik dan berarti.
Aristoteles sudah berpendapat, bahwa keutamaan terletak di tengah. Segala yang ekstrem selalu berakhir pada kejahatan. Ungkapan ini mengandung kebijaksanaan yang besar. Cinta yang ekstrem akan bermuara pada kebencian itu sendiri. Itulah yang dengan mudah kita temukan pada jiwa para teroris. Maka cinta haruslah disertai kesadaran.
Cinta tidak boleh menjadi berlebihan, karena, seperti yang dikatakan Aristoteles, apapun yang berlebihan selalu menjadi rahim bagi “si jahat”. Cinta yang berlebihan pada hakekatnya bukanlah cinta, melainkan potensi bagi kebencian, kejahatan, dan dendam itu sendiri. Bumbu ironi juga diperlukan di dalam cinta, supaya ia tidak melewati batas kewajaran.
Ironi adalah semacam rasa untuk menerima tidak wajaran di dalam hidup sebagai sesuatu yang ada, dan tidak bisa ditolak, seberapapun kita berusaha menolaknya. Rasa ironi memberi peluang untuk paradoks, yakni kemampuan untuk menerima tumpang tindih hal-hal yang berlawanan sebagai fakta kehidupan. Dengan ironi dan paradoks, orang bisa menyentuh kebijaksanaan di dalam hidupnya, sekaligus menjauhkan diri dari bahan bakar terorisme, yakni dendam dan kebencian.
Mungkin yang kita butuhkan di dalam mencintai adalah sedikit keraguan. Keraguan membuat kita tidak bisa penuh. Keraguan menjauhkan kita dari sikap ekstrem. Hidup dengan prinsip tanpa disertai sedikit keraguan membuat kita tak ubahnya seperti robot-robot ideologis yang bermental fundamentalis. Tanpa keraguan cinta akan lelah, gagal, dan berubah menjadi kebencian. Inilah mekanisme jiwa para teroris. Pola inilah yang pelan-pelan harus kita sadari dan hindari.

Mungkin cinta yang sejati selalu memberi ruang untuk “kebencian”, supaya ia tidak jatuh berubah menjadi kebencian murni itu sendiri. Inilah salah satu paradoks dan ironi kehidupan yang masih jauh dari pemahaman kita sebagai bangsa yang mengaku bermoral dan beragama, tetapi tidak pernah berani menyentuh keraguan sebagai obat untuk tetap waras. Akibatnya kita merasa bermoral sekaligus membenci dalam waktu yang sama. Ironis. 

Teroriskah Aku?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks James Stockdale ·     The Stockdale Paradox adalah konsep yang dipopulerkan oleh Jim Collins dalam bukunya Good to Great. ·     James Stockdale, merupakan mantan kandidat wakil presiden, perwira angkatan laut dan tawanan perang Vietnam. ·     Inti utama gagasan ini adalah “Anda perlu menyeimbangkan realisme dengan optimisme”. Dalam paradoks, kita sering menemukan beberapa hikmah yang sangat besar. Kesulitan dalam memahami suatu paradoks berasal dari sebuah kenyataan bahwa ketika hal itu didengar sebagai pepatah dalam beberapa bentuk verbal, hal itu bertentangan dan tidak bisa dipahami secara intuitif. Dalam hal Ini yang ingin dikatakan, bahwa paradoks paling baik dipahami melalui pengalaman. The Stockdale Paradox merupakan sebuah konsep yang menurutnya membutuhkan beberapa lompatan mental. Paradoks ini pertama kali dikemukakan oleh Jim Collin, dalam bukunya Good to Great , buku tentang self-help dan kepemimpinan ...

kemana Setelah UN?

Kemana Setelah UN? Pelaksanaan ujian nasioanal 2019 sebagaimana yang di jadwalkan oleh Kemendikbud sejatinya berakhir pada tanggal 08 april 2019. Bagi semua siswa kelas XII, masa-masa seperti ini merupakan saat-saat terakhir bagi mereka menggunakan seragam putih abu-abu. berakhirnya ujian nasioanal ini bukanlah akhir dari segalanya, akan tetapi ini merupakan awal yang baru untuk memulai sesuatu, yang tentunya nanti akan memunculkan pertanyaan “ kemana setelah lulus SMA”? Pertanyaan seperti itulah terkadang yang sering muncul di benak para pelajar yang baru selesai dari bangku SMA. Tidak banyak dari mereka yang kebingunan akan tujuan kemana mereka setelah UN. Apakah mereka akan melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, atau mencari lapangan pekerjaan, atau melaksanakan walimahan alias menikah? Sekarang saatnya kamu menjawab pertanyaan tadi, yang belum kamu temukan jawabannya, yaitu pertanyaan, "Mau ke mana, sih, kamu?" Jawaban pertanyaan ini menentukan apa...

Belajar Dari Tersingkirnya Real Madrid

Pertandingan babak 16 besar liga champions yang mempertemukan juara bertahan Real Madrid vs Ajax Amsterdam rabu (6/3/2019) dini hari   berjalan cukup menarik, berstatus tuan rumah dengan modal kemengan 1-2 di leg pertama di stadion Amsterdam Arena tidak membuat anak asuh Eric ten Hag patah semangat. tim tamu yang sama-sama berambisi lolos ke fase berikutnya, terbukti pada babak pertama tim tamu sudah unggul 0-2 sehingga menjadikan agregat sementara (2-3). pada babak kedua tim masih melakukan jual beli serangan namun   dewi fortuna pada pertandingan kali ini   lebih berpihak kepada tim tamu. Tidak tanggung – tanggung tim tamu menambah keunggulan 2 gol sementara tuan rumah hanya mampu memperkecil ketertinggalan melalaui gol yang di cetak marco asensio. hingga pertandingan berahir skor 1-4 untuk kemenangan tim tamu. dengan hasil itu Ajax Amsterdam memastikan lolos ke babak perempat final dengan agregat (3-5). Kegagalan Real Madrid menembus babak 16 besar liga champions m...