Dalam pandangan umum terorisme merupakan fenomena yang
lahir dari kebencian dan dendam, namun pandangan itu masih satu sisi. Namun di
sisi yang lain kebencian dan dendam lahir dari suatu situasi, situasi itu
adalah kegagalan cinta. Dalam cinta memerlukan sebuah kesadaran, tanpa
kesadaran cinta akan bermuara dalam kebencian.
Terorisme diawali dengan perasaan cinta
yang meluap akan Tuhan. Tuhan mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan orang
mematuhi serta menerapkannya dalam kehidupan. Keteguhan hati pada
prinsip-prinsip hidup mewarnai setiap tindakan. Sebuah Cinta
yang meluap dan hidup penuh penghayatan akan menjadi sebuah kenyataan
eksistensial yang bermakna.
Kita dapat menemukan banyak orang
semacam ini di sekitar, yakni orang-orang kecil
dengan semangat yang besar untuk hidup sesuai dengan ajaran
Tuhan, seperti yang tertera
pada agama-agama yang
dihayatinya. Mereka menjalani kehidupan sehari-hari dengan penghayatan
diri yang orsinil, tanpa
kepura-puraan. Hidup mereka bermakna. Namun perasaan cinta akan Tuhan juga
memiliki batasnya. Itulah kelemahan manusia.
Ia selalu terbatas bahkan untuk
melakukan hal-hal luhur di hadapan ‘yang tak terbatas’, yakni Tuhan sendiri.
Pada akhirnya cinta pun menjadi lelah, dan berubah menjadi cinta yang gagal.
Cinta yang gagal akan bermuara pada kebencian. Itulah yang kiranya terjadi pada
orang-orang yang menghayati nilai-nilai agamanya secara mendalam.
Mereka hidup sesuai dengan nilai, namun
mereka menyaksikan tiap hari, betapa mereka sendirian dan kesepian. Hidup
mereka tetap sulit. Para pimpinan yang mereka agungkan tidak mencerminkan
nilai-nilai kehidupan luhur yang mereka hayati. Kita juga banyak menemukan
fenomena semacam ini di Indonesia. Banyak orang hidup dengan nilai. Namun
mereka kecewa melihat keadaan. Orang-orang sekitarnya hidup dengan kemunafikan
dan penipuan. Akhirnya mereka pun lelah.
Cinta pun menjadi lelah. Cinta akan
nilai dan Tuhan berubah menjadi kebencian atas manusia, yakni manusia-manusia
munafik yang hidup dalam topeng kehormatan. Kelelahan cinta akan menjadi
kegagalan cinta. Kegagalan cinta adalah kebencian itu sendiri. Cinta yang gagal
akan memukul rata semua orang sebagai musuh. Cinta yang gagal adalah cinta yang
menyeragamkan. Cinta yang gagal membunuh akal sehat.
Cinta yang gagal akan memiliki daya
untuk menghancurkan, dan inilah sumber energi bagi terorisme. Di Indonesia para
teroris adalah orang-orang yang kecewa. Mereka mencintai hidup, nilai, dan
Tuhan, namun lelah melihat keadaan yang menyakitkan. Cinta mereka gagal dan berubah
menjadi dendam. Dendam dan kebencian itu menyeragamkan, sekaligus menyingkirkan
perbedaan-perbedaan kecil yang membuat setiap orang itu unik dan berarti.
Aristoteles sudah berpendapat, bahwa
keutamaan terletak di tengah. Segala yang ekstrem selalu berakhir pada
kejahatan. Ungkapan ini mengandung kebijaksanaan yang besar. Cinta yang ekstrem
akan bermuara pada kebencian itu sendiri. Itulah yang dengan mudah kita temukan
pada jiwa para teroris. Maka cinta haruslah disertai kesadaran.
Cinta tidak boleh menjadi berlebihan,
karena, seperti yang dikatakan Aristoteles, apapun yang berlebihan selalu
menjadi rahim bagi “si jahat”. Cinta yang berlebihan pada hakekatnya bukanlah
cinta, melainkan potensi bagi kebencian, kejahatan, dan dendam itu sendiri.
Bumbu ironi juga diperlukan di dalam cinta, supaya ia tidak melewati batas
kewajaran.
Ironi adalah semacam rasa untuk menerima
tidak wajaran di dalam hidup sebagai sesuatu yang ada, dan tidak bisa ditolak,
seberapapun kita berusaha menolaknya. Rasa ironi memberi peluang untuk
paradoks, yakni kemampuan untuk menerima tumpang tindih hal-hal yang berlawanan
sebagai fakta kehidupan. Dengan ironi dan paradoks, orang bisa menyentuh
kebijaksanaan di dalam hidupnya, sekaligus menjauhkan diri dari bahan bakar
terorisme, yakni dendam dan kebencian.
Mungkin yang kita butuhkan di dalam
mencintai adalah sedikit keraguan. Keraguan membuat kita tidak bisa penuh.
Keraguan menjauhkan kita dari sikap ekstrem. Hidup dengan prinsip tanpa
disertai sedikit keraguan membuat kita tak ubahnya seperti robot-robot
ideologis yang bermental fundamentalis. Tanpa keraguan cinta akan lelah, gagal,
dan berubah menjadi kebencian. Inilah mekanisme jiwa para teroris. Pola inilah
yang pelan-pelan harus kita sadari dan hindari.
Mungkin cinta yang sejati selalu memberi
ruang untuk “kebencian”, supaya ia tidak jatuh berubah menjadi kebencian murni
itu sendiri. Inilah salah satu paradoks dan ironi kehidupan yang masih jauh
dari pemahaman kita sebagai bangsa yang mengaku bermoral dan beragama, tetapi
tidak pernah berani menyentuh keraguan sebagai obat untuk tetap waras.
Akibatnya kita merasa bermoral sekaligus membenci dalam waktu yang sama.
Ironis.
Teroriskah Aku?
Komentar
Posting Komentar