Kemana
Setelah UN?
Pelaksanaan ujian nasioanal 2019 sebagaimana yang di jadwalkan oleh
Kemendikbud sejatinya berakhir pada tanggal 08 april 2019. Bagi semua siswa
kelas XII, masa-masa seperti ini merupakan saat-saat terakhir bagi mereka
menggunakan seragam putih abu-abu. berakhirnya ujian nasioanal ini bukanlah
akhir dari segalanya, akan tetapi ini merupakan awal yang baru untuk memulai
sesuatu, yang tentunya nanti akan memunculkan pertanyaan “ kemana setelah lulus
SMA”?
Pertanyaan seperti itulah terkadang yang sering muncul di benak para
pelajar yang baru selesai dari bangku SMA. Tidak banyak dari mereka yang
kebingunan akan tujuan kemana mereka setelah UN. Apakah mereka akan melanjutkan
Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, atau mencari lapangan pekerjaan, atau
melaksanakan walimahan alias menikah?
Sekarang saatnya kamu
menjawab pertanyaan tadi, yang belum kamu temukan jawabannya, yaitu pertanyaan,
"Mau ke mana, sih, kamu?" Jawaban pertanyaan ini menentukan apakah
kamu bisa sukses dalam kehidupan ini atau tidak. kita semua ini dalam
perjalanan. Entah disadari atau tidak, kita pasti menuju akhir kehidupan ini.
Jadi, pertanyaan
sesungguhnya bagi kita semua adalah apakah kita mau memilih tujuan dan menempuh
arah ke sana atau membiarkan diri kita hanyut terbawa arus-membiarkan orang
lain menentukan di mana kita akan berakhir. Namun, semua itu harus kamu sendiri
yang memilih dan menentukan, mau ke mana? Ini pertanyaan yang tak mudah.
Masalahnya adalah
terlalu banyak orang yang menjalani hidup tanpa tujuan, misalnya dengan
ungkapan "Saya, mah, mengalir saja". Asal kamu tahu, air itu mengalir
bukan tanpa tujuan. Air mengalir dengan gerak terarah: menuju laut atau menuju
langit melalui penguapan. Jadi, pada kata "mengalir" ada arah yang dipakai
pedoman oleh air. Bila
hidup tanpa tujuan, kamu akan ditelan oleh tipuan gerak. Seakan-akan kamu bergerak, melakukan
banyak aktivitas, padahal kamu tidak melakukan apa-apa
Bila kamu masih juga susah merumuskan
impianmu sendiri, luangkan waktu sebentar untuk menjawab beberapa pertanyaan
berikut ini. Ini bukan ujian yang membutuhkan nilai besar. Ini adalah ujian
kejujuran kamu tentang diri kamu sendiri. Kamu bisa saja menuliskan jawaban
yang bagus-bagus; tapi percayalah, menipu diri itu lebih merugikan bagi diri
kamu sendiri.
A.
MASA LALU.
Tidak ada impian yang tumbuh dari kepasifanmu.
Ia tumbuh dari kehidupanmu sendiri. Pada dirimu terdapat sejumlah potensi yang
menjadi modal untuk menumbuhkan impian. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut
buat melihat bagaimana kamu telah dipersiapkan.
1.
Apa sajakah
bakat terbesar saya?
(a) _
(b) _
(c) _
2.
Apakah kekuatan
karakter saya yang terbesar?
3.
Apa kata orang
yang tidak mempunyai ke-penting-an tentang kepandaian saya?
4.
Seluruh masa
lalu pastilah mempersiapkan saya menjadi sesuatu. Berdasarkan pada pengalaman
masa lalu, kira-kira saya ini lebih tepat melakukan apa?
5. Kegiatan
apakah yang membuat saya begitu bersemangat dan secara senang melakukannya
walaupun secara cuma-cuma? 6. Apakah kegiatan tersebut begitu pentingnya
sehingga saya rela mati demi kegiatan tersebut?
B.
MASA SEKARANG.
Ada orang yang merasa kecil hati ketika
menemukan dirinya saat ini tidak seperti yang ia harapkan. Tapi, apa yang kini
teralami menjadi modal terbesar bagi perumusan impian.
1. Apa
sajakah modal hidup yang saya miliki sekarang? (termasuk waktu, uang, sumber
daya manusia, peluang, dan sebagainya)
(a) _
(b)
_
(c) _
(d) _
2. Keadaan
apa sajakah yang sekarang ini dapat saya ubah secara positif agar saya dapat
memiliki banyak modal hidup atau memiliki peluang yang besar?
3. Apakah yang saya miliki saat ini ada yang
unik? Misalnya, tempat tinggal, tempat saya dalam sejarah, tempat saya sekarang
kuliah, orangorang yang saya kenal.
C.
MASA DEPAN.
Berdasarkan masa lalu
(penemuan modal dasar), lalu digabungkan dengan masa kini (penemuan peluang);
kamu bisa menyusun masa depan. Nah, sekaranglah saatnya kamu bertanya pada diri
sendiri. Seandainya saya bisa menjadi apa pun, ingin menjadi apakah saya?
(Tulislah jawabanmu dengan huruf besar.)
Menetapkan mimpi adalah
menetapkan garis finis perjalananmu selama kuliah. Ingat, ya, kuliah hanyalah 4
tahun, paling lama 7 tahun. Setelah itu, kamu akan menjalani kehidupan yang
lebih panjang lagi, bertahuntahun sebagai orang dewasa. Masa remajamu akan berakhir
ketika kamu berusia 21 tahun. Ketika itu, kamu sudah dianggap layak memikul
tanggung jawab untuk menghidupi dirimu sendiri. Jadi, menetapkan mimpi bagi
masa depanmu adalah bagian dari persiapan dianggap dewasa oleh masyarakat.
Setelah menentukan
garis finis perjalananmu, kamu sekarang harus mengukur: Seberapa jauh jarak
yang sanggup kamu tempuh atau seberapa lama kamu bisa menempuh perjalanan
menuju impian? Pertanyaan ini akan menyadarkan kamu mengenai kemampuanmu secara
realistis. Kamu bisa saja bermimpi setinggi langit, namun harus-terlebih dahulu
mengukur jumlah bulu-bulu di sayapmu. Bukan berarti, kamu harus mencoret impian
selangitmu itu. Yang kamu butuhkan hanyalah membuat tahapan-tahapan yang
disesuaikan dengan kemampuan kamu.
Mimpi adalah apa yang
kamu lihat dari diri kamu di masa depan. Untuk bisa merumuskan mimpi, kamu
harus melihat apa yang kamu miliki sekarang. Cara kamu memandang sesuatu (diri,
masa depan, masa kini, peluang, tantangan, dan lain-lain) dapat disebut sebagai
paradigma. Cara kamu memandang, bisa menentukan pada apa yang kamu lakukan
(sikap-sikap dan perilaku kamu) dan apa yang kamu lakukan membuahkan hasil
akhir yang kamu dapatkan dalam hidup.
Oleh karena itu, kalau
kamu mau melakukan perubahan, tak cukup hanya mengubah sikap, perilaku, metode,
dan teknik. Kamu harus mengubah paradigma-paradigma dasar yang merupakan
asal-usul dari sikap, perilaku, dan hasil akhir itu. Nah, kita sudah mencoba
bersama-sama merumuskan apa yang kita lihat pada diri kita. Tinggal bagaimana
kita merumuskan sikap dan perilaku sebagai realisasi dari paradigma.
Hanya impian tidak akan
cukup. Sesungguhnya, sikap kamu itu bukanlah sekadar penyumbang yang diperlukan
dalam perjalanan. Lebih dari itu, sikap kamu adalah faktor utama yang
menentukan apakah kamu akan berhasil menghidupkan impian.
Sikap itulah yang
menentukan seberapa jauh jarak yang sanggup kamu tempuh dalam perjalanan
bahagia. Sekali lagi, sikaplah yang menentukan; bukan intelegensi, bakat,
pendidikan, kekayaan, kemampuan teknis, peluang, atau kerja keras. Kalau tidak
memiliki sikap yang baik, kamu tidak akan pernah menikmati kesuksesan dan
kebahagiaan. Sikap itulah kualitas utama.
Ini ada catatan mengenai sikap itu.
- Sebuah impian tanpa
sikap yang positif menghasilkan seorang pemimpi semata.
-
Sikap yang positif tanpa impian menghasilkan seorang yang menyenangkan, tetapi
tidak sanggup meraih kemajuan.
-
Sebuah impian dengan sikap positif menghasilkan seorang yang potensial dan
kemungkinannya tak terbatas.
Sikap adalah bagaimana
mental kamu memandang dan menerima suatu peristiwa. Kamu bisa langsung merasa
putus asa ketika mengalami suatu kegagalan atau sebaliknya, merasa mendapatkan
tantangan. "Masa, sih, yang lain bisa; gue nggak bisa!" Inilah sikap.
Ketahuilah bahwa kalau memiliki intelegensi, talenta, pendidikan, pengetahuan
teknis, peluang, uang, dan etos kerja yang kuat, tapi tidak mempunyai sikap
yang tepat; kamu tidak akan pernah menikmati kesuksesan.
Seorang ahli bilang,
"Sikap itulah kualitas pertama yang menandai kesuksesan seseorang. Kalau
kamu memiliki sikap yang positif dan berpikir positif, serta suka tantangan dan
situasi-situasi sulit; kesuksesanmu telah separuhnya tercapai.
Komentar
Posting Komentar