Langsung ke konten utama

Pendidikan Karakter Merupakan Tanggung Jawab Bersama


Perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia belakangan ini ditandai oleh banyak peristiwa yang berdampak besar dalam kehidupan dan sekaligus mencerminkan derajat dan karakter yang menjadi watak masyarakat Indonesia. Pertentangan antar kelompok masyarakat makin meningkat, pengakuan superioritas sekolompok masyarakat tertentu terhadap kelompok masyarakat lain menjadi hal yang biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Persoalan ini dilingkupi juga oleh kebencian yang makin kuat terhadap etnik tertentu, karena kehilangan rasa malu dengan berbagai perilaku yang tidak mencerminkan karakter masyarakat Indonesia yang religius. Berbagai persoalan inilah yang menghilang dari karakter masyarakat (bangsa) ini.
Dalam dunia pendidikan khususnya di kalangan belajar saat ini dirasakan cukup menghawatirkan. Fenomena ini di tandai dengan menurunnya tatakrama dan budi pekerti, etika, moral dalam praktik kehidupan sekolah. Ekses negatif yang merisaukan masyarakat; antara lain maraknya penyimpangan berbagai norma kehidupan agama dan sosial kemasyarakatan yang terwujud dalam bentuk perlakuan siswa yang kurang hormat kepada guru dan staf sekolah, kurang disiplin, tidak mengindahkan peraturan sekolah serta kurang menjaga keindahan dan kebersihan lingkungan sekolah, terjadinya perkelahian antar pelajar sampai penggunaan obat terlarang.
Berkaitan dengan pemahaman serta watak masyarakat Indonesia pada perkembangan terakhirnya ini, dinilai menyimpang dari nilai-nilai watak dan karakter yang diharapkan. Karena itu, peran pendidikan baik formal, informal, maupun nonformal menjadi sangat penting dalam pengembangan karakter bagi rakyat Indonesia. Manusia yang berakhlak mulia, yang memiliki moralitas tinggi sangat dituntut untuk dibangun dikembangkan melalui pendidikan karakter. Karena itu, rakyat Indonesia tidak hanya sekedar memancarkan kemilau pentingnya pendidikan, melainkan bagaimana mereka mampu untuk menerapkan konsep pendidikan secara berkelanjutan dan merata melalui pengembangan karakter. Ini sejalan dengan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah“… agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Untuk mewujudkan itu semua tidaklah mustahil, tetapi juga tidak gampang. Perlu kerja sama antara semua pihak, baik orangtua, guru, masyarakat serta pemerintah. Orangtua sangat berpengaruh besar terhadap pendidikan moral si anak. Orangtua harus mampu memberikan arahan, bimbingan serta teladan kepada anak. Karena sebelum anak terjun ke dunia luar (sekolah dan masyarakat), mereka mendapatkan pendidikan di dalam keluarganya.
Selanjutnya, ketika anak berada di sekolah, guru juga harus berperan aktif. Di sekolah pun, guru jangan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan saja (transfer of knowledge) tetapi juga harus mampu mendidik, memberikan nilai-nilai kebaikan (transfer of value), dan memberikan teladan terhadap peserta didik. Lewat ilmu pengetahuan yang diberikan, guru bisa menyelipkan hikmah atau nilai-nilai yang terkandung dari ilmu pengetahuan tersebut. Dengan demikian, anak mengerti apa yang sedang dia pelajari dan mampu bijaksana ketika mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain keluarga dan sekolah, tempat yang juga memberika pengaruh besar untuk si anak adalah lingkungan masyarakat. Di sini, anak - akan menemukan berbagai macam sikap dan tingkah laku individu lain. Dapat dimungkinkan, akan banyak pertanyaan serta pertentangan yang muncul dalam diri anak ketika ia melihat kondisi yang sebenarnya. Selanjutnya, yang terakhir adalah sikap pemerintah yang harus tanggap terhadap apa yang sebenarnya diperlukan untuk bangsa ini khususnya untuk generasi-generasi penerus bangsa. Di sini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional perlu mengkaji dan menelaah serta memberikan kebijakan-kebijakan yang sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Memang benar, dunia pendidikan bukan satu-satunya yang patut dihakimi. Namun, mau tidak mau melalui pendidikanlah peradaban sebuah masyarakat bisa terbentuk. Bahkan, disebut-sebut sebagai agent of change. Dari institusi pendidikan, diharapkan dapat dibentuk manusia-manusia yang berjiwa luhur, berperikemanusiaan, tidak merampas hak orang lain, jujur, dan mandiri. Pendek kata, institusi pendidikan diharapkan mampu menumbuhkan jiwa-jiwa kebaikan pada setiap manusia
Pendidikan karakter sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di lembaga pendidikan, tetapi juga di rumah maupun lingkungan sosial. Adapun stakeholder dan peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa.  Realitas ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter diperlukan untuk kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara bagi masyarakat Indonesia. Memasuki era Industri  sekarang ini, tuntutan terhadap pendidikan karakter menjadi sangat penting agar lulusan di berbagai jenjang dapat bersaing dengan rekan-rekannya di berbagai belahan dunia lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kemana Setelah UN?

Kemana Setelah UN? Pelaksanaan ujian nasioanal 2019 sebagaimana yang di jadwalkan oleh Kemendikbud sejatinya berakhir pada tanggal 08 april 2019. Bagi semua siswa kelas XII, masa-masa seperti ini merupakan saat-saat terakhir bagi mereka menggunakan seragam putih abu-abu. berakhirnya ujian nasioanal ini bukanlah akhir dari segalanya, akan tetapi ini merupakan awal yang baru untuk memulai sesuatu, yang tentunya nanti akan memunculkan pertanyaan “ kemana setelah lulus SMA”? Pertanyaan seperti itulah terkadang yang sering muncul di benak para pelajar yang baru selesai dari bangku SMA. Tidak banyak dari mereka yang kebingunan akan tujuan kemana mereka setelah UN. Apakah mereka akan melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, atau mencari lapangan pekerjaan, atau melaksanakan walimahan alias menikah? Sekarang saatnya kamu menjawab pertanyaan tadi, yang belum kamu temukan jawabannya, yaitu pertanyaan, "Mau ke mana, sih, kamu?" Jawaban pertanyaan ini menentukan apa...

Teroriskah AKU?

Dalam pandangan umum terorisme merupakan fenomena yang lahir dari kebencian dan dendam, namun pandangan itu masih satu sisi. Namun di sisi yang lain kebencian dan dendam lahir dari suatu situasi, situasi itu adalah kegagalan cinta. Dalam cinta memerlukan sebuah kesadaran, tanpa kesadaran cinta akan bermuara dalam kebencian . Terorisme diawali dengan perasaan cinta yang meluap akan Tuhan. Tuhan mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan orang mematuhi serta menerapkannya dalam kehidupan. Keteguhan hati pada prinsip-prinsip hidup mewarnai setiap tindakan. Sebuah Cinta yang meluap dan hidup penuh penghayatan akan menjadi sebuah kenyataan eksistensial yang bermakna. Kita dapat menemukan banyak orang semacam ini di sekitar , yakni orang-orang kecil dengan semangat yang besar untuk hidup sesuai dengan ajaran Tuhan, seperti yang tertera pada agama -agama yang dihayatinya. Mereka menjalani kehidupan se hari-hari dengan penghayatan diri yang orsinil , tanpa kepura-puraan. Hidup mereka ...

Hijrah ala Ilmu Fisika

Sedikit penjelasan, mengenai judul tulisan kali ini, hijrah bukan berarti harus lekat dengan urusan keagamaan. Namun, hijrah itu sendiri berarti pindah, atau perpindahan. Lalu, apa maksud dari kata hijrah alias perpindahan itu sendiri? Dan, apa pentingnya perpindahan untuk mencapai kesuksesan? Baik, sebentar lagi kita akan tahu jawabannya. Yang perlu kita ketahui ialah, sejatinya, kita sebagai manusia itu akan terus dan akan selalu berpindah. Pindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Dari suatu kebiasaan ke kebiasaan lain. Setiap hal dalam tiap inci variabel kehidupan. Terus, hingga meninggal pun kita melakukan perpindahan. Pindah alam . Dalam berusaha mencapai kesuksesan pun, selain melakukan pergerakan, aksi, kita juga wajib melakukan perpindahan. Walaupun begitu, sebetulnya sudah berani aksi pun itu juga merupakan suatu perpindahan. Pindah dari zona nyaman ke zona yang tak nyaman sama sekali dan penuh tantangan. Pokoknya keluar dari zona nyaman itu penuh...