Langsung ke konten utama

Menyikapi Perbedaan dalam Islam


Islam telah diakui sebagai  agama rasional yang menjunjung tinggi peran akal, dan mendahulukan ilmu sebelum amal. Setiap individu umat berhak memahami agamanya dengan prinsip bebas berpikir, tetapi bukan berpikiran bebas. Prinsip kebebasan dan persamaan hak inilah, barangkali, yang menjadi salah satu faktor yang memperkaya khazanah ilmiah dengan aneka ragam dan corak pemikiran dalam Islam. Namun, di sisi lain, kebebasan yang longgar dan tanpa batas dapat berakibat munculnya pemahaman oleh orang-orang yang tidak mempunyai kapasitas dan otoritas
Bencana paling berbahaya yang saat ini menimpa umat Islam khususnya di Indonesia yang hari ini memasuki tahun politik adalah bencana perbedaan pendapat dan perselisihan paham.Perbedaan yang ditandai dengan kekerasan, kepentingan sendiri-sendiri,  dan motivasi  yang egoistik, berkembang dan tumbuh semakin besar-dan semakin besar; merasuk jauh ke dalam dunia mental seseorang lalu merantai pikirannya, perilakunya dan perasaannya. Lalu orang-orang ini kehilangan kejernihan pandangan terhadap segala sesuatu. Dalam perjalanannya mereka pun kehilangan tujuan dan misi Islam dan prinsip-prinsip dasarnya yang utama. Orang-orang ini kehilangan visi dan pengetahuan dan melupakan perilaku-perilaku Islami yang paling dasar .Mereka begitu mudah berkata tanpa pengetahuan, memutuskan tanpa pemahaman dan menjalankan sesuatu tanpa dasar.Dari orang-orang ini, tuduhan demi tuduhan membanjir, sebagian masyarakat dicap sebagai sesat dan penuh dosa, sementara yang lain dinyatakan sebagai kafir. Sebagian bencana umat muslim banyak kelompok muslimin yang tidak siap berbeda dan dengan mudah mencela bahkan mengkafir-fasikkan saudara seiman seagama, yang bisa menjadi petaka. Ada kelompok atau individu yang mengklaim diri sebagai yang paling benar dan menuduh kelompok lain salah. Akhirnya, terjadi suasana saling menyalahkan dan terjadi permusuhan berkepanjangan. Kenapa demikian; ketika perbedaan dihadapi dengan subjektivitas individual atau aliran dan fanatik mazhab secara ekstrem atau berlebihan, maka persatuan dan ukhuwah muslimin akan menjadi taruhan
Ikhtilaf menurut pandangan Psikologi
Dalam  perspektif  psiko-analisa, manusia secara alamiah memiliki sifat agresif.Hal ini juga  diisyaratkan oleh para Malaikat pada saat penobatan  Adam (manusia) sebagai khalifah Allah, bahwa  manusia  punya karakter aggressor (senang menumpahkan darah). Agresif disini dapat diartikan menyerang/menaklukan, dan secara implicit memiliki makna  menguasai, memiliki dan menghancurkan. Dalam perspektif filsafat eksistensialisme, agresif  berkonotasi egosentik Diri sebagai pusat segala hal.
Manusia seringkali hanya mencari dan memilih media untuk mengekpresikan kecenderungan agresi tersebut. Dengan kata lain, agresi bukanlah suatu  reaksi seorang individu manusia terhadap stimuli (rangsangan) dari luar, melainkan rangsangan dalam yang sudah “terpasang” yang mencari pelampiasan dan akan terekspresikan melalui media rangsangan yang kecil sekalipun. Media itu kadang hanyalah sekedar pijakan dalam membangaun alasan untuk  menjadikan ekpresi agresi itu menjadi sah secara sosial. 
Sikap Menghadapi Perbedaan
Sebagaimana telah diungkapkan, ikhtilaf atau perbedaan pendapat di kalangan muslimin selalu terjadi secara alami bersama relativitas akal manusia itu sendiri. Meski demikian, Islam pada dasarnya sangat hati-hati dan berupaya ketat membatasi agar ikhtilaf tidak mudah terjadi. Islam tidak memungkiri kenyataan ikhtilaf, namun Islam hanya membenarkan ikhtilaf yang tidak menyimpang dari al-Qur‘an, al-Sunnah, dan atsar sahabat atau ijma ulama’. Islam tetap mengingatkan umatnya agar semaksimal mungkin menghindari ikhtilaf, tidak berlebih-lebihan membahas dan mempertanyakan hal-hal yang tidak perlu didiskusikan lebih jauh.
Kendati demikian islam sangat tegas mengingatkan agar muslimin jangan gampang berikhtilaf atau berselisih pendapat, namun secara alami ini terus terjadi dari zaman ke zaman, dari generasi ke genarasi. Maka ikhtilaf itu mesti harus dibedakan kepada yang dibolehkan dan Yang terpuji. melihat ikhtilaf yang terjadi di kalangan sahabat, tabi‘in dan al-salaf alshaleh, bahwa mereka berbeda manhaj dan istinbath semata-mata untuk mencari ridha Allah dalam upaya mencari kebenaran agama Allah dan rasul-Nya. Mereka ikhlas dan siap menerima pendapat lain yang mempunyai dasar yang lebih kuat dan jelas, atau minimal menghargai pendapat lain yang berbeda, sejauh itu berdasarkan dalil yang jelas dan tidak bertentangan dengan al-Qur‘an dan al-Sunnah. Ikhtilaf dilakukan dengan adab atau etika yang mulia dengan bahasa santun dan bijaksana.Inilah ikhtilaf yang dapat dikategorikan rahmat dan bermanfaat bagi kekayaan khazanah Islam dan kejayaan muslimin. Sebaliknya, yang tercela dan terlarang adalah ikhtilaf yang dilakukan atas dasar nafsu egoistis yang tujuannya memenangkan perdebatan dan merendahkan lawan, dilakukan oleh orang-orang yang kurang pengetahuan tentang Islam.
Maka dalam menghadapi setiap perbedaan pemahaman dan pendapat keislaman yang pasti dan terus terjadi, ada beberapa prinsip etika yang seyogianya menjadi acuan. Ketika sebuah ikhtilaf masih dalam kategori terpuji dan dibolehkan, kedua belah pihak, kalau harus bertahan dengan pendapatnya, seyogianya tidak perlu menyalahkan apalagi mencela pendapat yang lain. Inilah etika ikhtilaf para sahabat, tabi‘in, dan ulama salaf, termasuk para imam mazhab fikih yang empat dari Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah. Bagi umat, untuk menerima atau menolak sebuah pendapat dalam ikhtilaf seharusnya eklektif dan selektif, harus dipertimbangkan apakah yang diikhtilafkan itu layak dan bermanfaat bagi Islam dan muslimin, apakah orang yang berpendapat tersebut memiliki kapasitas dan otoritas serta berkualitas. Tidak hanya dalam kasus ikhtilaf, setiap pendapat atau ajaran yang didengar seyogianya dihadapi dengan hati-hati dan dicermati dengan teliti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks James Stockdale ·     The Stockdale Paradox adalah konsep yang dipopulerkan oleh Jim Collins dalam bukunya Good to Great. ·     James Stockdale, merupakan mantan kandidat wakil presiden, perwira angkatan laut dan tawanan perang Vietnam. ·     Inti utama gagasan ini adalah “Anda perlu menyeimbangkan realisme dengan optimisme”. Dalam paradoks, kita sering menemukan beberapa hikmah yang sangat besar. Kesulitan dalam memahami suatu paradoks berasal dari sebuah kenyataan bahwa ketika hal itu didengar sebagai pepatah dalam beberapa bentuk verbal, hal itu bertentangan dan tidak bisa dipahami secara intuitif. Dalam hal Ini yang ingin dikatakan, bahwa paradoks paling baik dipahami melalui pengalaman. The Stockdale Paradox merupakan sebuah konsep yang menurutnya membutuhkan beberapa lompatan mental. Paradoks ini pertama kali dikemukakan oleh Jim Collin, dalam bukunya Good to Great , buku tentang self-help dan kepemimpinan ...

Hijrah ala Ilmu Fisika

Sedikit penjelasan, mengenai judul tulisan kali ini, hijrah bukan berarti harus lekat dengan urusan keagamaan. Namun, hijrah itu sendiri berarti pindah, atau perpindahan. Lalu, apa maksud dari kata hijrah alias perpindahan itu sendiri? Dan, apa pentingnya perpindahan untuk mencapai kesuksesan? Baik, sebentar lagi kita akan tahu jawabannya. Yang perlu kita ketahui ialah, sejatinya, kita sebagai manusia itu akan terus dan akan selalu berpindah. Pindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Dari suatu kebiasaan ke kebiasaan lain. Setiap hal dalam tiap inci variabel kehidupan. Terus, hingga meninggal pun kita melakukan perpindahan. Pindah alam . Dalam berusaha mencapai kesuksesan pun, selain melakukan pergerakan, aksi, kita juga wajib melakukan perpindahan. Walaupun begitu, sebetulnya sudah berani aksi pun itu juga merupakan suatu perpindahan. Pindah dari zona nyaman ke zona yang tak nyaman sama sekali dan penuh tantangan. Pokoknya keluar dari zona nyaman itu penuh...

Pasang surut Politik Sarungan

Membincangkan hubungan agama dan negara pada saat ini memang benar-benar sangat menarik sekaligus relevan. Realitas kehidupan politik kita pada saat ini telah memperlihatkan sebuah dinamika yang sangat memukau. Menjelang pemilihan umum digelar, banyak sekali tulisan yang bernada 'gugatan' terhadap keabsahan para ulama atau kiai yang terjun di dunia politik praktis dengan aktif di salah satu partai politik (parpol). Bagi sebagian kalangan, kiai seharusnya tidak masuk ke kancah politik praktis, dan tetap berkonsentrasi di bidang keagamaan dan kemasyarakatan. Beberapa alasan yang dikemukakan, di antaranya, bahwa Wilayah kiai adalah sakral, berdimensi gerakan moral yang penuh dengan nilai-nilai keikhlasan, tanpa tendensi dan ambisi, menjadi milik semua golongan masyarakat. Sedangkan, dunia politik adalah profan yang meniscayakan adanya kepamrihan, penuh muatan politis, tendensius, dan akibatnya para kiai hanya menjadi alat politik kelompok tertentu. Jika berpolitik praktis da...